Navigate to:
03 Agustus 2026 - Siaran Pers

Jakarta, 31 Juli 2026 – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mengajak seluruh akuntan Indonesia untuk bersama-sama menentukan arah masa depan profesi melalui penyusunan Rencana Strategis (Renstra) IAI 2026–2030 dan penyelenggaraan Kongres XV IAI. Di tengah disrupsi artificial intelligence (AI), digitalisasi, meningkatnya tuntutan keberlanjutan, perubahan regulasi, serta ekspektasi publik yang semakin tinggi terhadap transparansi dan akuntabilitas, IAI menegaskan bahwa integritas akan tetap menjadi pembeda utama profesi akuntan sekaligus fondasi utama kepercayaan publik.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Webinar Free PPL IAI bertajuk "The Future of Accounting Profession: Navigating Change with Integrity" yang diselenggarakan pada Jumat (31/7). Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Kongres XV IAI yang tidak hanya membahas masa depan profesi akuntan, tetapi juga menjadi forum dialog untuk menghimpun aspirasi anggota dalam penyusunan Renstra IAI 2026–2030 sekaligus sosialisasi penyelenggaraan Kongres XV IAI beserta mekanisme pemilihan Dewan Pengurus Nasional (DPN), Dewan Pengawas, dan Dewan Penasihat IAI. Lebih dari 1.800 peserta dari seluruh wilayah Indonesia, terdaftar mengikuti webinar ini, dari ribuan lainnya menyaksikan di kanal Youtube IAI.
Membuka webinar tersebut, Ketua Tim Pekerja Kongres XV IAI, Arief Tri Hardiyanto, menegaskan bahwa penyusunan Renstra dan penyelenggaraan Kongres XV merupakan momentum strategis untuk membangun kesamaan visi mengenai arah profesi dan organisasi beberapa tahun ke depan. "Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Kongres XV IAI, sebuah momentum penting untuk membangun kesamaan visi mengenai arah profesi dan arah organisasi beberapa tahun ke depan. Melalui forum ini kami ingin menghimpun aspirasi anggota sebagai bahan penyusunan Renstra IAI 2026–2030 sekaligus mensosialisasikan penyelenggaraan Kongres XV IAI," ujarnya.
Transformasi Profesi Menuntut Kompetensi Baru
Dalam sambutannya, Arief menjelaskan bahwa dunia sedang mengalami perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Artificial intelligence, otomatisasi, data analytics, digitalisasi bisnis, pelaporan keberlanjutan, hingga meningkatnya tuntutan transparansi telah mengubah wajah profesi akuntan secara fundamental.
Menurutnya, meskipun berbagai pekerjaan rutin akan semakin terdigitalisasi, kebutuhan terhadap akuntan yang mampu memberikan professional judgement, menjaga integritas, membangun kepercayaan, dan menjadi penasihat strategis justru semakin besar. "Keunggulan profesi tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan informasi, tetapi oleh kemampuan memastikan bahwa informasi tersebut dapat dipercaya," tegasnya.
Arief juga mengingatkan bahwa di tengah kompleksitas dunia usaha dan kebijakan publik saat ini, profesi akuntan memikul tanggung jawab yang semakin besar. "The one who should ascertain the certainties has become the primary source of uncertainties."
Menurutnya, ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa profesi akuntan harus terus menghadirkan kepastian, objektivitas, dan kredibilitas sehingga transformasi profesi harus selalu berpijak pada etika dan integritas.
Akuntan Tetap Menjadi Penjaga Kepercayaan
Pada sesi diskusi, Ruddy Koesnadi, Anggota Dewan Penasihat IAI, mengajak peserta merefleksikan kembali hakikat profesi akuntan melalui tiga nilai utama, yaitu accountability, credibility, and trust. Menurutnya, teknologi akan terus berkembang, namun kepercayaan publik hanya dapat dibangun melalui integritas, profesionalisme, dan kualitas pertimbangan profesional yang dimiliki akuntan.
Sementara itu, Jusuf Halim, Anggota Dewan Pengawas IAI, menegaskan bahwa perkembangan AI harus dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas profesi, bukan ancaman. Akuntan perlu mengembangkan kompetensi baru agar adopsi AI mampu meningkatkan kualitas layanan profesional tanpa memperlebar kesenjangan kompetensi di dalam profesi.
Menurutnya, professional integrity dan ethical judgement akan tetap menjadi kompetensi yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Karena itu, penguasaan AI harus berjalan seiring dengan penguatan etika, kepemimpinan, kemampuan analitis, serta pembelajaran sepanjang hayat.
Renstra 2026–2030: IAI Tangguh Memimpin Ekosistem Keuangan dan Keberlanjutan
Selain membahas transformasi profesi, webinar juga menjadi forum awal untuk memperoleh masukan anggota terhadap penyusunan Renstra IAI 2026–2030. IAI memperkenalkan tema besar Renstra, yaitu "IAI Tangguh, Memimpin Ekosistem Keuangan dan Keberlanjutan." Tema tersebut mencerminkan komitmen IAI untuk menjadi organisasi profesi yang kuat, adaptif, dan relevan dalam menghadapi dinamika global, perkembangan teknologi, perubahan regulasi, serta agenda pembangunan berkelanjutan.
Seperti disampaikan Anggota Tim Pekerja Kongres XV IAI, Raden Yudi Ramdan Budiman, Renstra tersebut dirancang agar IAI tidak hanya memperkuat profesi akuntan, tetapi juga menjadi penggerak utama tata kelola, pelaporan keuangan, keberlanjutan, dan ekosistem ekonomi yang transparan, akuntabel, inklusif, serta berkelanjutan.
Untuk mewujudkan visi tersebut, IAI akan memfokuskan pengembangan organisasi pada sejumlah prioritas strategis, antara lain memperkuat advokasi dan suara kolektif profesi; meningkatkan kualitas standar profesi dan sertifikasi yang diakui secara nasional maupun global; hingga memperluas pembelajaran profesional berkelanjutan (Continuing Professional Development). Langkah strategis lainnya adalah membangun jejaring kolaboratif lintas sektor; mendukung pengembangan karier anggota sepanjang siklus profesinya; mempercepat transformasi digital dan pemanfaatan AI; memperkuat kontribusi profesi terhadap agenda keberlanjutan; serta meningkatkan kemampuan anggota menghadapi perubahan regulasi dan dinamika dunia usaha.
Yudi Ramdan menegaskan bahwa Renstra tersebut bukan sekadar dokumen organisasi. "Renstra adalah kompas yang akan menentukan arah perjalanan IAI lima tahun ke depan. Karena itu, Renstra harus lahir dari pemikiran bersama, pengalaman bersama, dan aspirasi seluruh anggota," katanya.
Diskusi juga menegaskan bahwa Chartered Accountant (CA) Indonesia tetap menjadi identitas profesional sekaligus standar kompetensi akuntan Indonesia yang akan terus berkembang mengikuti perubahan teknologi, regulasi, dunia usaha, dan kebutuhan masyarakat. Melalui standar profesi, sertifikasi, pendidikan profesional berkelanjutan, dan pengembangan kompetensi baru di bidang AI, sustainability, data analytics, serta kepemimpinan, IAI berkomitmen memastikan akuntan Indonesia tetap relevan dan mampu memberikan nilai tambah bagi organisasi maupun masyarakat.
Menuju Kongres XV IAI
Webinar ini merupakan seri pertama dari rangkaian Free PPL Road to Kongres XV IAI. IAI akan menyelenggarakan berbagai kegiatan lanjutan hingga pelaksanaan Kongres XV IAI dan HUT ke-69 IAI pada 2–3 Desember 2026 di Jakarta sebagai forum tertinggi organisasi untuk menentukan arah kebijakan, kepemimpinan, serta pengembangan profesi akuntan Indonesia.
Melalui rangkaian Road to Kongres XV IAI, organisasi berharap lahir gagasan-gagasan strategis yang mampu memperkuat daya saing profesi, meningkatkan kualitas tata kelola, memperkokoh integritas, serta memperbesar kontribusi akuntan Indonesia dalam mendukung pembangunan ekonomi dan keberlanjutan nasional.
Tentang IAI
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah organisasi profesi akuntan yang menaungi seluruh akuntan di Indonesia yang tersebar di 34 provinsi. IAI merupakan anggota dan pendiri International Federation of Accountants (IFAC) dan ASEAN Federation of Accountants (AFA), serta associate member Chartered Accountants Worldwide (CAW).
Untuk menjaga integritas dan profesionalisme akuntan Indonesia, IAI menerbitkan Kode Etik Akuntan Indonesia. Sebagai standard setter, IAI menyusun dan menetapkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku di Indonesia.
Informasi lebih lanjut tentang IAI, kunjungi www.iaiglobal.or.id, atau email ke iai-info@iaiglobal.or.id
WA Official IAI: +628 111 055 141