Page 132 - Modul CA - Akuntansi Manajemen Lanjutan (Plus Soal)
P. 132
AKUNTANSI MANAJEMEN LANJUTAN
Penentuan harga transfer yang terbaik adalah dengan mempergunakan pendekatan opportunity cost. Dalam
pendekatan ini, harga transfer dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu harga transfer minimum dan harga
transfer maksimum. Harga transfer minimum, selalu dilihat dari sudut pandang divisi penjual, dimana
divisi penjual menentukan minimal harga transfer yang bisa diterima agar transaksi dapat terlaksana.
Rumus untuk menentukan harga transfer minimal adalah biaya variabel ditambah dengan opportunity
cost. Sedangkan harga transfer maksimal, akan dilihat dari sudut pandang divisi pembeli, dimana divisi
pembeli menentukan besarnya harga transfer maksimal yang dapat diterima agar transaksi tersebut dapat
terlaksana. Besarnya harga transfer maksimal biasanya adalah harga pasar (harga beli divisi tersebut dari
luar perusahaan).
Misalkan perusahaan memiliki dua buah divisi, yaitu divisi komponen dan divisi perakitan. Saat ini divisi
perakitan membutuhkan 10.000 komponen XYZ. Komponen tersebut biasanya dibeli dari luar dengan harga
Rp2.000 per komponen. Belakangan ini terdapat surat edaran dari kantor pusat yang menyarankan untuk
mengoptimalisasikan pembelian antar divisi. Karena itu, divisi perakitan meminta penawaran dari divisi
komponen. Divisi komponen memberikan rincian untuk memproduksi komponen XYZ, yang terdiri dari:
1. Biaya Bahan Mentah Langsung Rp500 per unit
2. Biaya Buruh Langsung Rp300 per unit
3. Biaya Overhead Variabel Rp200 per unit
4. Biaya Overehad Tetap Rp300 per unit
DOKUMEN
Perhitungan biaya overhead tetap per unit didasarkan atas kapasita produksi sebesar 100.000 unit komponen.
Saat ini perusahaan berproduksi dengan tingkat kapasitas penuh, dan semua komponen dapat dijual
keluar perusahaan. Untuk memenuhi permintaan divisi perakitan, maka perusahaan harus menghentikan
penjualan komponen ZZZ ke luar sebanyak 80.000 unit. Komponen ini memiliki marjin kontribusi sebesar
Rp1.200 per komponen. Dengan demikian, jika permintaan dari divisi perakitan diterima, maka divisi
IAI
komponen akan kehilangan kesempatan (opportunity lost) sebesar Rp800 per komponen. Karena itu, harga
transfer minimal yang akan diterima divisi komponen adalah Rp1.000 + Rp1.200 = Rp2.200 per komponen.
Sedangkan harga transfer maksimal yang dapat diterima divisi perakitan adalah Rp2.000. Karena harga
transfer minimal lebih besar dari harga transfer maksimal, maka lebih baik divisi komponen tetap menjual
keluar perusahaan, dan divisi perakitan tetap membeli dari luar perusahaan.
Namun, jika divisi komponen baru memproduksi dengan kapasitas 80.000 unit, maka dalam hal ini terdapat
kapasityas menganggur. Jika terdapat kapasitas menganggur, maka opportunity cost dari menerima pesanan
dari divisi perakitan adalah nol, karena tidak ada marjin kontribusi yang dikorbankan. Karena itu besarnya
harga transfer minimal adalah Rp1.000 per unit. Jika kondisinya seperti ini, maka akan terjadi transaksi
antara kedua divisi dengan harga transfer berkisar antara Rp1.000 yang merupakan harga transfer minimal
dan Rp2.000 yang merupakan harga transfer maksimal. Penentuan berapa besarnya harga transfer antar
divisi dalam hal ini akan dilakukan dengan negosiasi (negotiated transfer price)
Model penentuan harga transfer lain adalah penentuan harga transfer berdasarkan biaya (cost based transfer
price). Ada beberapa variasi untuk penentuan harga transfer ini, yaitu:
1. Full Cost Transfer Pricing
2. Full Cost plus Markup
3. Variable Cost plus Fixed Fee
Meskipun model penentuan harga transfer berdasarkan pendekatan opportunity cost lebih baik, namun cost
based transfer price tetap banyak dilakukan, karena alasan kemudahan untuk diterapkan.
124 Ikatan Akuntan Indonesia