Page 38 - Modul CA - Pelaporan Korporat
P. 38
PELAPORAN KORPORAT
perilaku atau keputusan yang dilakukan/diambil. Menurut teori utilatarian, perilaku/keputusan
yang etis adalah perilaku atau keputusan yang memberikan manfaat kepada lebih banyak
pihak/orang. Hal ini berbeda dengan teori egoisme yang justru menilai baik atau buruknya
berdasarkan besarnya manfaat bagi pelaku atau pengambil keputusan.
Berbeda dengan teori relativitas, teori deontologi memandang adanya pernyataan universal
tentang benar dan salah. Berbeda juga dengan aliran consequentialist, teori deontologi tidak
memperhatikan dampak suatu perilaku/keputusan dalam menilai apakah perilaku/keputusan
tersebut etis atau tidak etis. Sementara itu, teori etika kebajikan juga berbeda dari teori-teori
lain yaitu lebih fokus pada nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang yang baik (pelaku),
sedang teori-teori sebelumnya lebih fokus pada perilakunya. Lalu teori perintah Tuhan menilai
IAI WEB VERSION
etis atau tidaknya suatu tindakan berdasarkan kesesuaiannya dengan perintah Tuhan.
Teori etika membantu dalam merencanakan dan mengambil keputusan atau melakukan
tindakan, terutama jika dihadapkan pada permasalahan, konflik, atau dilema etika. Dilema
etika dapat disebabkan oleh perbedaan nilai yang diyakini seseorang dengan keputusan
yang harus diambilnya. Dilema etika juga dapat terjadi ketika pengambilan suatu keputusan
memiliki dampak yang saling bertolak belakang kepada beberapa pihak.
Untuk memecahkan permasalahan/dilema etika diperlukan sebuah kerangka atau model
pengambilan keputusan agar solusi atau keputusan yang diambil konsisten. Model
pengambilan keputusan untuk menyelesaikan dilema etika sangat beragam. D’Aprix (2005)
menyebutkan setidaknya terdapat 60 model pengambilan keputusan (yang dipublikasikan)
untuk menyelesaikan dilema etika. D’Aprix (2005) mengelompokkan 60 model tersebut ke
dalam beberapa kategori yaitu: Decision Process Models, Decision-Tree Models, Series of Questions
Models, Steps or Action to Follow Models, Prioritization of Ethical Principles dan/atau Values
Models, dan Hybrid Models.
Permasalahan etika tersebut juga dihadapi oleh akuntan. Akuntan mungkin dihadapkan pada
dilema antara pengungkapan kinerja keuangan perusahaan sesungguhnya dengan potensi
kehilangan bonus atau penurunan harga saham perusahaan akibat pengungkapan tersebut.
Berbagai kasus kecurangan pelaporan keuangan yang melibatkan profesi akuntan merupakan
salah satu bukti kegagalan akuntan dalam menyelesaikan permasalahan etika yang dihadapinya.
Oleh sebab itu akuntan perlu melakukan langkah-langkah pengambilan keputusan yang dapat
dipertanggungjawabkan pada saat menghadapi dilema etika. Salah satu unsur penting dalam
pengambilan keputusan terkait dilema etika tersebut adalah adanya panduan yang menjadi
acuan yaitu kode etik akuntan.
2.1.2 Kode Etik Akuntan Indonesia
Kode etik adalah nilai-nilai yang disepakati dan dikodifikasi sebagai acuan perilaku baik
atau buruk. Kode etik melekat pada ruang lingkup yang diaturnya. Sebagai contoh, kode etik
perusahaan adalah nilai-nilai yang disepakati oleh insan perusahaan dan dikodifikasi menjadi
acuan seluruh insan perusahaan dalam bersikap dan bertindak. Demikian halnya dengan
kode etik profesi, yaitu merupakan nilai-nilai yang disepakati dan menjadi acuan seluruh
insan profesi dalam menjalankan profesinya.
30 Hak Cipta 2025 IKATAN AKUNTAN INDONESIA – Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak Hak Cipta 2025 IKATAN AKUNTAN INDONESIA – Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak 31

