Page 131 - Modul CA - Pelaporan Korporat
P. 131
BAB 5: ASET TIDAK LANCAR
tersebut merupakan biaya yang harus dikeluarkan agar lahan dalam kondisi untuk siap
digunakan sesuai intensi manajemen. Oleh karena itu, biaya pembongkaran bangunan
tua tersebut merupakan biaya yang diatribusikan secara langsung dengan perolehan lahan
dan diakui menambah biaya perolehan lahan tersebut. Jika puing-puing dari bangunan
tua yang dibongkar dapat dijual dan menghasilkan kas, maka nilai penjualan puing-
puing bangunan tersebut harus dimasukkan sebagai pengurang dari biaya pembongkaran
bangunan. Biaya pembongkaran bersih (yaitu setelah dikurangi dengan penjualan puing-
puing bangunan) yang dimasukkan sebagai komponen biaya perolehan lahan.
Selain contoh-contoh di atas, berikut contoh biaya yang dapat diatribusikan secara
langsung terhadap perolehan aset tetap yang disebutkan dalam PSAK 216:
i. biaya imbalan kerja yg timbul secara langsung dari konstruksi atau perolehan aset
tetap,
ii. biaya penyiapan lahan untuk pabrik,
iii. biaya penanganan dan penyerahan awal,
iv. biaya perakitan dan instalasi,
v. biaya pengujian aset apakah aset berfungsi dengan baik, setelah dikurangi hasil neto
penjualan setiap produk yang dihasilkan sehubungan dengan pengujian tersebut, dan
vi. fee profesional.
3. Estimasi biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset tetap
(dismantling cost)
Perusahaan seringkali diberikan kewajiban untuk membongkar dan memindahkan aset
IAI WEB VERSION
tetap dan merestorasi lokasi dari aset tetap tersebut. Kewajiban tersebut sering disebut
dengan dismantling cost. Kewajiban tersebut timbul ketika aset tetap diperoleh atau
sebagai konsekuensi penggunaan aset tetap selama periode tertentu untuk tujuan selain
memproduksi persediaan. Kewajiban tersebut merupakan contoh dari provisi dan perlakuan
akuntansinya mengacu pada pengaturan di PSAK 237: Provisi, Liabilitas Kontingensi, dan
Aset Kontingensi.
Ketika perusahaan memiliki kewajiban terkait dismantling cost, maka perusahaan harus
mengestimasi dismantling cost yang akan dikeluarkan di masa depan. Kemudian perusahaan
menghitung nilai kini dari estimasi dismantling cost tersebut. Nilai kini dari estimasi
dismantling cost tersebut menambah biaya perolehan aset tetap. Sebagai dampaknya,
beban penyusutan aset tersebut akan lebih besar dibandingkan dengan perolehan aset
sejenis yang tidak memiliki kewajiban dismantling cost.
Pengakuan biaya dalam jumlah tercatat aset tetap dihentikan ketika aset tetap berada
di lokasi dan kondisi yang diperlukan supaya aset siap digunakan sesuai dengan intensi
manajemen. Oleh karena itu, biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk penggunaan
atau pengembangan aset tidak dimasukkan dalam jumlah tercatat aset tersebut. Sebagai
contoh biaya yang terjadi akibat mesin yang telah siap beroperasi namun belum digunakan
atau masih beroperasi di bawah kapasitas penuh. Contoh lain adalah kerugian yang
ditanggung perusahaan pada awal operasi akibat permintaan terhadap produk yang
dihasilkan perusahaan masih rendah.
122 Hak Cipta 2025 IKATAN AKUNTAN INDONESIA – Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak Hak Cipta 2025 IKATAN AKUNTAN INDONESIA – Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak 123

