Page 134 - Modul CA - Pelaporan Korporat
P. 134
PELAPORAN KORPORAT
Contoh 5.5 – Perolehan Aset Tetap melalui Pertukaran Aset Tetap:
Pada 1 Agustus 20X2, PT KLM menukarkan kendaraan operasionalnya dengan kendaraan lain. Nilai
tercatat kendaraan lama pada saat terjadi transaksi sebesar Rp250.000.000 (terdiri atas biaya
perolehan sebesar Rp600.000.000 dengan akumulasi penyusutan sebesar Rp350.000.000). Nilai
wajar kendaraan lama adalah Rp200.000.000 dan nilai wajar kendaraan baru sebesar Rp260.000.000.
Di dalam transaksi ini disepakati PT KLM membayarkan uang tunai sebesar Rp70.000.000.
Jika transaksi pertukaran kendaraan ini memiliki substansi komersial, maka biaya perolehan kendaraan
baru diakui pada nilai wajar. Karena informasi mengenai nilai wajar, baik untuk aset yang diserahkan
dan aset yang diterima, tersedia dan diasumsikan angkanya sama-sama andal, maka kendaraan baru
diakui pada nilai wajar aset yang diserahkan ditambah dengan kas yang diserahkan. Jurnal yang
dibukukan PT KLM pada saat pertukaran kendaraan adalah:
IAI WEB VERSION
Dr. Kendaraaan (baru) 270.000.000
Dr. Akumulasi Penyusutan (kendaraan lama) 350.000.000
Dr. Kerugian Pertukaran Aset 50.000.000
Cr. Kendaraan (lama) 600.000.000
Cr. Kas 70.000.000
Jika transaksi pertukaran di atas tidak memiliki substansi komersial, maka biaya perolehan kendaraan
baru diakui pada nilai tercatat aset yang diserahkan, dalam hal ini sebesar Rp320 juta (nilai tercatat
kendaraan lama Rp250 juta ditambah dengan kas Rp70.000.000). Tidak ada keuntungan atau
kerugian pertukaran yang diakui.
Jurnal yang dibukukan PT KLM adalah sebagai berikut:
Dr. Kendaraaan (baru) 320.000.000
Dr. Akumulasi Penyusutan (kendaraan lama) 350.000.000
Cr. Kendaraan (lama) 600.000.000
Cr. Kas 70.000.000
5.3.4 Pengukuran Setelah Pengakuan
Setelah pengakuan awal, perusahaan dapat memilih untuk mengukur aset tetap dengan
menggunakan model biaya atau model revaluasi. Perusahaan harus menerapkan model
pengukuran yang sama untuk kelompok aset tetap yang sama. Misal, perusahaan menerapkan
model revaluasi untuk tanah dan menerapkan model biaya untuk aset tetap lainnya. Jadi,
suatu perusahaan bisa menerapkan kedua model di atas untuk pengukuran aset tetapnya.
Berikut penjelasan mengenai kedua model pengukuran tersebut.
1. Model biaya
Ketika perusahaan menerapkan model biaya, maka aset tetap akan diukur pada biaya
perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai.
Model biaya untuk aset tetap sama dengan model biaya yang diterapkan untuk properti
investasi.
2. Model revaluasi
Dengan model revaluasi, aset tetap akan diukur pada jumlah revaluasian, yaitu nilai
wajar pada tanggal revaluasi dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi
penurunan nilai. Berikut beberapa pengaturan penting terkait dengan model revaluasi.
126 Hak Cipta 2025 IKATAN AKUNTAN INDONESIA – Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak Hak Cipta 2025 IKATAN AKUNTAN INDONESIA – Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak 127

