Page 199 - Modul CA - Pelaporan Korporat
P. 199
BAB 7: INSTRUMEN KEUANGAN
Contoh 7.3:
PT Giga adalah institusi keuangan yang memiliki aset keuangan untuk memenuhi kebutuhan
likuiditas sehari-hari. Perusahaan berupaya untuk meminimalkan biaya untuk mengelola kebutuhan
likuiditas tersebut dan oleh karena itu secara aktif mengelola imbal hasil pada portofolio. Imbal
hasil tersebut terdiri dari memperoleh pembayaran kontraktual maupun keuntungan dan kerugian
dari penjualan aset keuangan.
Sebagai akibatnya, perusahaan memiliki aset keuangan untuk memperoleh arus kas kontraktual
dan menjual aset keuangan untuk menginvestasikan kembali pada aset keuangan dengan imbal
hasil yang lebih tinggi atau untuk lebih mencocokan durasi liabilitasnya.
Pengalaman di masa lalu, strategi ini mengakibatkan adanya aktivitas penjualan berulang dan
IAI WEB VERSION
penjualan tersebut signifikan dalam nilai. Aktivitas ini diharapkan untuk berlanjut di masa depan.
Analisis:
Tujuan dari model bisnis adalah untuk memaksimalkan imbal hasil pada portofolio untuk memenuhi
kebutuhan likuiditas sehari-hari dan perusahaan mencapai tujuan tersebut dengan memperoleh
arus kas kontraktual dan juga menjual aset keuangan. Dengan kata lain, memperoleh arus kas
kontraktual dan menjual aset keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan untuk mencapai
tujuan model bisnis.
2. Karakteristik arus kas kontraktual dari aset keuangan
Untuk uji karakteristik arus kas kontraktual dari aset keuangan dilakukan di level instrumen.
Uji ini mensyaratkan entitas untuk menentukan apakah arus kas kontraktual aset yang
semata dari pembayaran pokok dan bunga dari jumlah pokok terutang (solely payment of
principal and interest/SPPI). Oleh karena itu, hanya berlaku untuk pengaturan pinjaman
dasar. Untuk pinjaman yang bersifat kompleks, tidak memenuhi uji SPPI.
Yang dimaksud dengan jumlah pokok adalah nilai wajar dari aset keuangan pada saat
pengakuan awal. Namun jumlah pokok tersebut dapat berubah selama umur aset keuangan
(misal, jika ada pelunasan jumlah pokok). Sedangkan bunga terdiri dari imbalan untuk
nilai waktu atas uang, risiko kredit terkait jumlah pokok terutang pada periode waktu
tertentu, risiko dan biaya peminjaman standar, dan juga marjin laba.
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan SPPI:
a. Termin pembayaran apakah “tidak sah” atau “de minimis”
Termin kontrak yang tidak sah atau de minimis tidak boleh dipertimbangkan dalam
melakukan uji SPPI. Suatu termin dikatakan tidak sah jika mempengaruhi arus kas
kontraktual hanya jika terjadi suatu kejadian yang sangat jarang, sangat abnormal,
dan sangat kecil kemungkinannya terjadi. Termin kontrak disebut de minimis jika
de minimis di tiap periode pelaporan dan secara kumulatif selama umur instrument
keuangan.
b. Hak jika terjadi pailit atau tidak dilakukan pembayaran
Instrumen keuangan disebut memenuhi uji SPPI jika debitur tidak melakukan
pembayaran adalah merupakan pelanggaran kontrak dan pemilik instrumen
mempunyai hak kontraktual atas jumlah pokok dan bunga terutang dalam hal debitur
pailit.
190 Hak Cipta 2025 IKATAN AKUNTAN INDONESIA – Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak Hak Cipta 2025 IKATAN AKUNTAN INDONESIA – Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak 191

