Berita IAI

IAI Perkuat Peran ISRF untuk Dorong Integrasi Keberlanjutan dalam Strategi Perusahaan

29 April 2026 - Siaran Pers



Jakarta, 27 April 2026 – Ikatan Akuntan Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat integrasi keberlanjutan ke dalam strategi bisnis melalui penguatan Indonesia Sustainability Reporting Forum (ISRF). Komitmen ini ditegaskan dalam Focus Group Discussion (FGD) penetapan arah strategis ISRF yang digelar pada Senin (27/4), dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor. FGD ini dihadiri oleh Ketua ISRF, Ignasius Jonan, dan dibuka oleh Anggota DPN IAI, Maliki Heru Santosa, serta menghadirkan narasumber dari Dewan Standar Keberlanjutan (DSK) IAI. Forum ini bertujuan mengidentifikasi topik prioritas serta merumuskan solusi konkret untuk memperkuat ekosistem keberlanjutan di Indonesia.

Dalam sambutannya, Maliki menekankan bahwa dunia usaha dan profesi akuntan tengah berada dalam fase transformasi mendasar. Dinamika global, mulai dari perubahan iklim hingga tuntutan transparansi investor, telah mendorong perubahan paradigma dalam penciptaan nilai perusahaan. “Pelaporan keberlanjutan tidak lagi menjadi pelengkap, tetapi telah menjadi bagian integral dari strategi bisnis, manajemen risiko, dan tata kelola perusahaan,” ujarnya.

Transformasi ini sejalan dengan perkembangan standar global yang dikembangkan oleh International Sustainability Standards Board melalui IFRS Sustainability Disclosure Standards. Di Indonesia, langkah konvergensi telah dilakukan oleh IAI melalui penerbitan PSPK 1 dan PSPK 2 sebagai fondasi penguatan pelaporan keberlanjutan nasional.  Namun demikian, IAI mengakui bahwa implementasi keberlanjutan di tingkat perusahaan masih menghadapi berbagai tantangan. Praktik yang ada masih cenderung terfragmentasi, reaktif, dan berorientasi pada kepatuhan. Oleh karena itu, ISRF dihadirkan sebagai platform berbasis ekosistem yang mendorong kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

FGD menegaskan bahwa penguatan ekosistem keberlanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas profesi dan lintas sektor, termasuk keterlibatan regulator, pelaku usaha, dan komunitas investor.

Prioritas Strategis: Integrasi di Level Eksekutif

Salah satu fokus utama yang mengemuka dalam FGD adalah pentingnya pembahasan di level strategis melalui executive roundtable. Anggota ISRF menekankan bahwa integrasi keberlanjutan harus dimulai dari tingkat pimpinan, mencakup strategi bisnis, perencanaan jangka panjang, hingga manajemen risiko.  Beberapa perusahaan anggota ISRF telah mulai mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam rencana jangka panjang dan sistem manajemen risiko. Namun, tantangan utama terletak pada bagaimana menggerakkan internal organisasi, baik di level manajemen maupun karyawan, agar memiliki keselarasan dalam implementasi keberlanjutan.

Selain itu, tantangan lain yang mengemuka adalah kesulitan dalam mengkuantifikasi peluang keberlanjutan. Meskipun risiko keberlanjutan relatif lebih mudah diidentifikasi, perusahaan masih menghadapi kendala dalam mengaitkan peluang keberlanjutan dengan kinerja keuangan secara konkret.

FGD juga menyoroti perlunya pengembangan metodologi yang lebih relevan dengan konteks Indonesia, khususnya dalam pengukuran financed emissions dan penerapan climate risk stress test. Saat ini, pendekatan global dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan domestik, terutama dalam menangkap dimensi peluang dan dampak jangka panjang.  Selain itu, terdapat kebutuhan untuk menyamakan persepsi di level eksekutif terkait konsep-konsep utama seperti green finance dan sustainable finance, yang saat ini masih memiliki interpretasi yang beragam di berbagai institusi.

Forum juga mengidentifikasi pentingnya dukungan regulasi dalam mengembangkan peluang keberlanjutan, termasuk penguatan ekosistem untuk proyek karbon (carbon projects). Hal ini dinilai krusial untuk mendorong perusahaan tidak hanya berfokus pada mitigasi risiko, tetapi juga pada penciptaan peluang baru berbasis keberlanjutan.

Salah satu temuan kunci dari FGD adalah bahwa tantangan terbesar dalam implementasi keberlanjutan bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga terkait dengan mindset dan kepemimpinan. Konsep tone at the top menjadi faktor penentu keberhasilan integrasi keberlanjutan di perusahaan. Tanpa komitmen yang kuat dari pimpinan, implementasi keberlanjutan berpotensi tidak berjalan optimal. Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma bahwa keberlanjutan bukan sekadar biaya, melainkan investasi jangka panjang yang menciptakan nilai bagi perusahaan.

Selain itu, penguatan budaya keberlanjutan di internal organisasi juga menjadi prioritas, termasuk melalui penyelarasan KPI keberlanjutan dengan kinerja perusahaan serta peningkatan awareness di seluruh lini organisasi.

Peran Strategis ISRF sebagai Platform Kolaborasi

ISRF diposisikan sebagai katalisator transformasi dengan tiga peran utama, yaitu sebagai jembatan antara regulasi dan kesiapan perusahaan, platform kolaborasi lintas industri, serta penggerak integrasi keberlanjutan ke dalam strategi bisnis.  Dalam implementasinya, anggota ISRF mengharapkan forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menghasilkan inisiatif yang praktis dan berdampak. Bentuk kegiatan yang diprioritaskan mencakup engagement dengan regulator, interaksi dengan investor dan standard setter global, serta benchmarking dan case sharing antar-anggota.

Forum ISRF diharapkan dapat menjadi ruang untuk menyatukan pandangan dan merumuskan elemen dasar yang menjadi standar minimum dalam pengungkapan keberlanjutan di Indonesia. Tantangan ke depan tidak hanya terletak pada aspek “what to report”, tetapi juga “how to integrate”. Hal ini mencakup bagaimana memastikan bahwa informasi keberlanjutan benar-benar mencerminkan strategi perusahaan, terhubung dengan pengambilan keputusan, dan memiliki kualitas yang dapat diandalkan oleh investor.

Sebagai penutup, Ketua ISRF Ignasius Jonan menyampaikan harapan agar ISRF dapat menjadi center of excellence dalam praktik pelaporan keberlanjutan di Indonesia, menghasilkan rekomendasi konkret, serta menjadi motor penggerak transformasi menuju praktik bisnis yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi yang kuat antara profesi, regulator, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya, Indonesia diyakini memiliki potensi besar untuk berada di garis depan dalam praktik pelaporan keberlanjutan global yang berkualitas dan berintegritas. FGD ini menjadi langkah strategis awal dalam memperkuat peran ISRF sebagai platform kolaboratif yang tidak hanya merespons tantangan, tetapi juga membuka peluang dalam era ekonomi berkelanjutan.

Tentang IAI

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah organisasi profesi akuntan yang menaungi seluruh akuntan di Indonesia yang tersebar di 34 provinsi. IAI merupakan anggota dan pendiri International Federation of Accountants (IFAC) dan ASEAN Federation of Accountants (AFA), serta associate member Chartered Accountants Worldwide (CAW).

Untuk menjaga integritas dan profesionalisme akuntan Indonesia, IAI menerbitkan Kode Etik Akuntan Indonesia. Sebagai standard setter, IAI menyusun dan menetapkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku di Indonesia.

Informasi lebih lanjut tentang IAI, kunjungi www.iaiglobal.or.id, atau email ke iai-info@iaiglobal.or.id

WA Official IAI: +628 111 055 141